Cerita Perihal Nahad Baunsele

  • 2 min read
  • Jul 18, 2019

Saat ia berangkat ke luar negeri, orang-orang menduga dirinya akan bersenang-senang dan berkelana di negeri asing. Padahal, dirinya sedang bekerja keras demi melawan semua tantangan.
Lelaki itu Nahad Baunsele, tiba dari kampung di So’e, Timor Tengah Selatan. Berkat beasiswa IFP, ia diundang berguru ke Tulane University, salah satu universitas dengan tradisi epidemologi dan public health terbaik di Amerika Serikat.
Kampusnya terletak di New Orleans, yang dikenal sebagai kota penuh pesta, jazz, dan punya populasi kulit gelap yang besar. Nahad ke sana hanya bermodal nekad. Betapa tidak, skor Toefl-nya hanya 430. Bahasa Inggrisnya pas-pasan.
Jangankan untuk belajar, untuk sekadar berkomunikasi dengan orang lain pun ia kesulitan. Setelah empat bulan berguru bahasa di New Orleans University, Nahad mulai kuliah di Tulane.
Dia menuturkan, pada semester pertama, ia ibarat makhluk bumi yang tersesat di negeri alien. Dia ketinggalan di semua kuliah. Bahkan ia terancam dipulangkan bila tidak bisa mengikuti ritme perkuliahan.
Nahad tak ingin kembali ke So’e dengan membawa kegagalan. Dengan kemampuan terbatas, ia menemui satu per satu dosennya. Dia ceritakan persoalan kemampuan bahasa yang terbatas itu.
Dia hadapi persoalan itu dengan cara mengakuinya, kemudian mengajak orang lain untuk membantunya. Gayung bersambut. Dosen-dosennya tersentuh. Semuanya setuju bahwa perjalanan menyusuri separuh bumi demi berguru itu membutuhkan keberanian besar.
Mulailah Nahad mendapat bantuan. Saat Nahad menciptakan paper, dosen akan membantunya untuk membaca ulang dan mencari ide-ide orisinal di situ. Nahad mencicipi betapa baiknya orang-orang yang selalu melihat sisi terbaiknya, bukan sisi terlemah seseorang.
Di New Orleans, di kota yang surganya penyuka pesta dan para penenggak brandy setiap saat, Nahad menemukan setitik cahaya. Dia mulai menemukan semangat belajar. Dia membayangkan akan membawa banyak pengetahuan demi So’e, kampung halamannya.
Kisah Nahad di New Orleans yakni kisah usaha menghadapi keterbatasan. Jika saja ia menyerah, maka ia akan pulang dengan membawa kisah kegagalan. Namun ia punya tekad besar lengan berkuasa untuk memilih takdirnya di masa depan.
Setelah dua tahun lebih delapan bulan, ia pulang membawa keberhasilan. Kini, ia berada di So’e dan menghadapi dunia yang ingin diubahnya. Dia kembali berurusan dengan penyakit menular, dunia puskesmas, serta tantangan yang tidak mudah.
Tapi semangat baja yang ditempa di New Orleans itu menjadi kompas kehidupan baginya. Dia tetap menawarkan determinasi dan kemampuan menemukan solusi di tengah masalah. Dia pun tak ingin meninggalkan So’e alasannya yakni itulah medan pengabdiannya.
Saat saya bertemu dengannya di So’e, wilayah yang sedingin Puncak di Bogor, Nahad dengan riang bercerita pengalamannya. Dia bercerita perjuangannya menyediakan akomodasi kesehatan bagi rakyat yang terpinggirkan.
Dia gres saja membangun 12 Puskesmas dengan akomodasi paling lengkap, mulai dari ruang rawat inap sampai perumahan dokter. Saya suka ceritanya ihwal usaha membantu masyarakat nelayan yang tidak mempunyai KTP alasannya yakni suka berpindah-pindah. “Pada ketika itu, negara harus hadir membantu warganya,” katanya.
Saya lebih banyak mendengar. Saya begitu kagum dengan dirinya. Saya melihat Nahad yang terus bertransformasi. Mulanya saya melihat dirinya di Jakarta sebagai seorang peserta beasiswa. Setelah itu dirinya tiba ke luar negeri dengan membawa keterbatasan.
Kini dirinya menjadi sosok penuh ide-ide perubahan di kampung halamannya. Dia membawa kembang ilmu untuk menjadi persembahan bagi So’e, kampung halamannya.
Sambil mendengar dirinya bercerita, sayup-sayup saya mendengar lagu dari Louis Amstrong, penyanyi jazz bersuara serak di New Orleans:

“I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself what a wonderful world”